BEGITU lampu warna-warni menyala di sekitar gerbang utama Gedung Merdeka Jln. Asia Afrika Bandung, Minggu (11/7) malam, puluhan orang di seberang jalan segera beraksi mengabadikannya dengan kamera dan kamera telefon genggam. Kilatan lensa menyambar di mana-mana.
Sebagian pengunjung lainnya bertepuk tangan, menyimpan rasa kagum. Warna bergonta-ganti, sesekali terlihat seperti merambat di tepian dinding, membuat gedung tua bersejarah itu tampak mewah sekaligus makin anggun.
“Gedung ini, museum ini, milik kita semua. Dengan kegiatan malam ini, kita harapkan makin tumbuh kesadaran masyarakat untuk datang dan memanfaatkan museum. Bukankah museum itu tempat publik belajar?” ujar Kepala Museum Konperensi Asia-Afrika Bandung Isman Pasha.
Isman berbicara tentang pemanfaatan ruang publik yang belum optimal di Kota Bandung, dan persis persoalan seperti inilah yang ingin diangkat ke permukaan oleh Bandung Creative City Forum (BCCF), penggagas acara ini. “Kami ingin mengajak masyarakat bisa kembali ke ruang publik,” kata Koordinator “Creative Urbanism BCCF” Yulianti Tanyadji pada konferensi pers sehari sebelumnya.
Pemanfaatan ruang publik memang layak mendapat perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat. Pasalnya, ketersediaan ruang publik yang layak diakses masyarakat masih tergolong minim. “Harus diakui bahwa kita masih kekurangan. Patut diusahakan ketersediaan ruang publik terus meningkat, baik secara kualitas maupun kuantitas,” ucap Sekretaris Daerah Jawa Barat Lex Laksamana dalam sambutannya yang dibacakan Asisten Perekonomian Pemprov Jabar Wawan Ridwan.
Ruang publik berperan penting dalam denyut kehidupan kota. Ketersediaannya memungkinkan masyarakat mengekspresikan diri secara kreatif. Tak hanya itu, dengan ruang publik yang optimal tersedia, kinerja industri kreatif sebagai bidang usaha baru yang menjadi andalan Kota Bandung, dapat berkembang secara leluasa.
Pemetaan video
Kegiatan “mewarnai” Gedung Merdeka ini disebut facade lighting. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan besar Semarak.bdg (Semarak Bandung), yang digagas BCCF. Ada delapan kegiatan lain yang telah tersusun, dan berpuncak pada pemetaan video (video mapping), 25 Juli nanti, juga di Gedung Merdeka. Seluruh rangkaian kegiatan merupakan bagian dari perayaan 200 tahun Kota Bandung.
Selain facade lighting yang mendapat dukungan dari pabrikan Philips, juga digelar acara ngariung di timur Sungai Cikapundung. Puncak acara berupa nonton bersama final Piala Dunia di Afrika Selatan lewat dua layar raksasa yang telah disediakan di tepi barat Cikapundung.
Berbagai tampilan kesenian, baik tradisional maupun modern, digelar. Ragam jajanan juga tersedia. Beberapa turis asing tampak membaur dengan para pengunjung. Bahkan tanpa segan mereka ikut menari di tengah arena joget.
Direktur Program BCCF Tubagus Fiki Chikara Satari mengungkapkan, pemilihan lokasi acara nonton bersama di Sungai Cikapundung bukan tanpa alasan. Menurut dia, ini bagian dari upaya menghidupkan sungai yang membelah kota tersebut.
“Bentuk pemaknaan lain atas Cikapundung diharapkan akan segera dibuat agar sungai ini makin hidup dan dapat dinikmati sebagai salah satu ruang publik yang bermanfaat,” ucapnya.
Rangkaian Semarak.bdg melibatkan berbagai pihak, termasuk para mahasiswa berbagai universitas. Di mata Fiki, para mahasiswa memegang peran penting dalam dinamika kreatif kota. “Kami ini (panitia) hanya tukang galinya saja. Para mahasiswa yang muda-muda inilah yang nantinya akan meneruskan kerja kreatif di kota ini,” ujarnya.
Jika tak berhasil menjaga keberlangsungan kegiatan semacam ini, kerja kreatif akan berhenti dalam waktu singkat. Tak jauh beda dengan lampu warna-warni di Gedung Merdeka yang hanya bisa dinikmati sebulan saja. (Ag. Tri Joko HerRiadi/”PR”)***
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=148283